~ malu dengan diri sendiri?.. bergantung pada hati bukan harta..


Hari itu saya sedang berada di satu daerah. Sekitar pukul 3 petang, saya berjalan menuju ke satu kawasan Mall, yang jaraknya lebih kurang 1 km dari tempat saya menginap. Menjadi dilema buat saya. Jika saya naik teksi, tentunya terlalu dekat. Akan tetapi jika saya berjalan kaki, letih juga. Maka dari itu saya memutuskan untuk naik beca untuk sampai ke destinasi.

Tidak perlu lama menunggu, saya menahan beca yang sedang melintas. Si penarik beca nampak berusia melebihi 50 tahun, dengan rambut yang sudah memutih, dan berbadan kurus, namun ramah dan bersemangat.

Tidak sampai 10 minit kami sampai di depan tempat yang di tuju. Saya tidak ingin bertanya berapa upah yang harus saya bayar, melainkan saya langsung memberikan sekeping duit merah. Saya seperti yakin RM10 itu cukup untuk tambang perjalanan sejauh itu.

“ Tak usah, tak usah! terima kasih.. " kata si penarik beca.

Saya terkasima. Kenapa dia menolak.. tak ada duit baki ke? atau tidak cukup bayaran sebanyak itu? Saya mengajukan soalan.

“ Tak apa-apa, hari ini pecuma untuk puan! "

Apa percuma?..

Saya tidak habis fikir, bagaimana boleh si penarik beca tidak mengenakan bayaran atas jerih payah mengantar saya sepanjang 1 km. Padahal saya memang tidak pernah mengenalnya, jadi tentunya ini bukan semacam balas budi.

“ Ini hari Jumaat, puan .. Kalau hari Jumaat saya tak minta bayaran dengan penumpang .."

"Kenapa pulak begitu encik?"

"Sebenarnya tak ada apa-apa .. Saya ini kan beragama Islam. Tapi saya juga bukan orang yang ada harta. Hanya ada rezeki untuk bagi makan isteri dua kali sehari. Saya pun ada impian untuk bersedekah.. saya tak ada duit, jadi nak sedekah pakai apa?

Jadi?

"Sebab saya tak mampu bersedekah dengan duit, jadi saya bawa penumpang beca dengan percuma setiap hari Jumaat, selagi saya terdaya..."

Subhanallah! .... mulianya orang tuan ini ..

Betapa orang tua ini tidak menyerah dengan keadaannya yang miskin, dan bertekad untuk menjadi manfaat bagi sesama, meskipun dia hanya mampu menyumbangkan tenaganya, yang sudah tidak kuat lagi kerana usianya yang telah lanjut!

Sudahkah kita menjadi seorang muslim yang baik, yang selalu siap berkorban dan memberi manfaat bagi kehidupan di alam semesta ini?

Cuba fikir dan renungkan ..

Seberapa sering kita merasa enggan untuk berderma, berzakat, bersedekah .. dengan alasan belum ada duit, menunggu dapat rezeki banyak, menunggu hutang habis dibayar, atau malah dengan alasan tak sempat alias tak ada masa!

Sementara nikmat Allah tiada pernah habis menyertai hari-hari kita. Nikmat rezeki, kesihatan, kasih sayang keluarga, kenyamanan dan berbagai nikmat lagi ..

“ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nahl [16] : 18)

Apakah kita telah lalai mensyukuri nikmat Allah?

Bahawa kewajiban untuk berderma adalah kewajiban setiap orang beriman. Yang menjadi subjek bagi berderma adalah fakir miskin. Akan tetapi siapakah fakir miskin itu?

Apakah fakir miskin hanya boleh dinilai dari kebendaan saja?

Betapa banyak orang kaya yang masih saja merasa miskin, kerana harta yang dimilikinya belum dapat mencukupi nafsu duniawinya. Sementara, banyak juga orang “fakir miskin” yang berusaha menjadi manfaat bagi sesama, dengan berkorban apa yang dimilikinya.

Dengan demikian, kaya atau tidaknya seseorang, adalah bergantung kepada hati, bukan harta!
Saya terdiam beberapa saat. Merasa bersyukur, masih ada orang yang berhati mulia seperti orang tua ini, sekaligus merasa malu kepada diri sendiri, kerana terkadang masih saja merasa kekurangan.

Duit masih di tangan saya, saya menghulurkan semula kepadanya, dan dia tetap menolak dengan alasan hari ini hari Jumaat dan dia sudah berniat untuk menderma tenaganya yang semakin berkurangan itu...

Subhanallah!

Pada akhirnya saya mengucapkan salam perpisahan kepada orang tua itu, tukang beca yang telah menjadi “guru saya” selama 15 minit

Keesokan harinya saya mencuba untuk menunggu di jalan yang sama pada waktu yang sama dengan pertemuan semalam. Dan kali ini saya sudah menyiapkan “banyak hadiah” untuknya, dan kali ini dia tidak akan boleh menolaknya! Kerana ini hari Sabtu!

Namun ternyata Allah tidak mempertemukan saya dengannya hari itu, hinggalah hari penghabisan saya di daerah itu....

Terima kasih ya Allah .. Telah mengirimkan seorang guru yang luar biasa, yang telah memberi hikmah kepada saya di hari itu. 

Aku berdoa kepada-Mu memohon agar Engkau berikan kesihatan dan rezeki yang baik kepada orang tua itu, untuknya menarik beca dengan niatnya yang baik untuk bersedekah dan untuk mendapat redho Mu ya Allah...

Allahu’alam .. Semoga bermanfaat!





No comments:

Post a Comment